NOVEL: HARI ESOK PASTI AKAN TIBA By Yukiko Ezaki

 Ga berasa bulan May udah beredar ajaaa πŸ˜„. Reading Challange  dari JaneXLia bulan ini, bertema cover HIJAU πŸ˜…. Sempet kuatir karena ga yakin punya novel berwarna hijau, tapi ternyata setelah bongkar-bongkar tumpukan, malah nemu 7 buku bercover hijau yang belum terbacaπŸ˜„. Kita liat aja, bakal berapa buku hijau yang bisa disubmit buat challange kali ini πŸ˜‰ ..



------------------------------

Kitto Ashita Wa, atau diterjemahkan Hari Esok Pasti Akan Tiba, merupakan buku  berdasarkan true story dari penulisnya sendiri, Yukiko Ezaki. Bercerita tentang seorang gadis yang terkena penyakit aneh, yang bahkan belum diketahui penyebab dan obatnya hingga kini.


Berawal di tahun 1967, Yukiko yang masih merupakan siswi SMU berasrama di Tokyo, merasakan penglihatan yang tiba-tiba mengabur.. Namun, gejala itu hanya sebentar. Esok hari, karena merasa matanya bisa kembali jelas melihat, Yukiko pun tidak memperdulikan gejala awal tersebut. 


Beberapa bulan kemudian, simptom lain datang menyerang. Kali ini tangannya mendadak tidak bisa memegang sumpit. Seperti yang pertama, itu hanya bertahan sesaat. Tangannya  kembali normal keesokan harinya. 


Beberapa pertanda datang dan pergi dengan cepat.  Salah satunya kaki yang tiba-tiba tidak bisa digerakkan saat  sedang mendaki gunung bersama teman-teman. Bayangkan paniknya ia saat tengah turun gunung, dan mendadak lumpuh. 


Lagi-lagi, Yukiko masih belum mengacuhkan tanda-tanda dari penyakit yang menyerang. Hanya menganggap itu efek kecapaian.


Barulah ketika duduk di perguruan tinggi, serangan yang mendera kali ini tergolong berat,  tiba-tiba rahangnya tidak bisa digerakkan, menyebabkan kelumpuhan berbicara. Ditambah berat badan yang menyusut drastis, akhirnya Yukiko mau berobat ke dokter. 


Diagnosa yang keluar, mengejutkan mereka sekeluarga! Penyakit langka yang bahkan belum ada nama dan obatnya. Jangankan pengobatan, penyebabnya saja tidak diketahui, dokter hanya tahu Yukiko mengalami penurunan fungsi otot. 


Obat-obatan yang diberikan hanya mampu meringankan penderitaan, tapi lama-kelamaan, efeknya pun menjadi tidak berfungsi samasekali. 



HARI-HARI YANG SEMAKIN GELAP

Penyakit Yukiko tidak membaik, malah memburuk dengan cepat. Kali ini bahkan menyerang sistem pernapasan. Tubuhnya ditempeli berbagai mesin yang mampu menopang di saat kelumpuhan datang menyerang. 


 20 tahun lebih, Yukiko harus menerima takdir bahwa dia tidak akan sembuh. Awalnya berat, beberapa kali mencoba bunuh diri, tapi dukungan kompak dari ibu, ayah, dan saudara-saudara kandung, menyadarkannya bahwa hidup adalah karunia. 


Pembelajaran yang akhirnya bisa dia petik;  'jika tidak bisa menerima takdir, bunuh diri saja. Jika takut untuk bunuh diri, terima takdir  dengan rela, dan bertahanlah untuk hidup', (hal. 46 )



TITIK BALIK KEHIDUPAN YUKIKO

Di usia 31 tahun, malaikat penolong itu muncul dalam bentuk mantan  guru ayahnya, yang menasehati Yukiko untuk mulai menulis sebuah buku. Kemampuannya yang tersisa hanya itu, karena tidak mungkin dia melakukan pekerjaan lain dengan kondisi tubuh yang sering kali tiba-tiba lumpuh. 


Walaupun sempat tidak yakin, Yukiko berusaha dan memilih cerita anak sebagai tema buku pertamanya. 


Koneko Muu No Okurimono (Hadiah Untuk Muu si Anak Kucing), buku pertamanya, yang ternyata sangat diterima dalam dunia literasi Jepang, bahkan banyak menerima penghargaan. 


Dari sana, hidup Yukiko seolah berubah. Dia bangkit dari keterpurukan, dan berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak hanya menjadi beban, tapi mampu menghasilkan seperti orang-orang normal lain. 


20 tahun bukan waktu yang sebentar.. Jangka waktu yang harus dia habiskan untuk menerima takdir yang merenggut masa mudanya. Selama 20 tahun juga, Yukiko menghabiskan waktu lebih banyak di rumah sakit daripada rumah sendiri. Merasa nyaman, karena setiap saat penyakitnya kambuh,  dia yakin dokter dan perawat akan segera menolong.


Pada akhirnya saat kesadaran itu menerpa, Yukiko tahu dia tidak akan maju jika bertahan di comfort zone, dalam hal ini rumah sakit. Dia harus memberanikan diri, berlatih agar tubuhnya bisa sedikit kuat, dan mampu bertahan di dunia luar. 


Buku ini menceritakan apa yang dirasa oleh Yukiko sebagai point' of view orang pertama.


Diceritakan juga pada 2 bab terakhir, curahan hati ayahnya saat tahu putri pertama diterpa cobaan sebesar itu. Bagaimana dia sempat merasa benci terhadap Tuhan, harus keluar dari Lion Club' demi tidak bertemu dengan semua kolega yang hanya akan bertanya keadaan putrinya, juga sakit dalam diri tiap kali menekan dada sang putri untuk membantu pernapasan saat sedang kambuh. Dia hanya berharap, itu bukan hari terakhir dari kehidupan anaknya... 😭


------------------------------

Sayang tidak diceritakan bagaimana kondisi dari Yukiko Ezaki hingga saat ini. Tidak banyak juga info yang didapat dari Google, sepertinya penulis memang tidak mau terlalu mengekspos berita-berita tentang kehidupan pribadi.


Yang  menarik, buku beliau pertama, tentang si Kucing Muu dan boneka kayu kuda-kudaan, dilampirkan sebagai bonus tambahan pada bab terakhir buku ini. Dari ceritanya, aku bisa mengerti kenapa buku tersebut memenangkan banyak penghargaan, dan menjadi bacaan wajib banyak sekolah di Jepang. 


Yukiko membuktikan, walau dibatasi oleh keterbatasan gerak dari setiap anggota tubuhnya, bahkan penurunan fungsi dari panca indera, dia tidak menyerah untuk berusaha. Bahkan merasa malu mengeluh di depan orang lain, karena tidak ingin dikasihani.


 Selagi pikirannya masih berfungsi dengan baik, di situlah dia yakin bisa berkontribusi untuk masyarakat. Bukan dengan tenaga, melainkan lewat buah pikiran yang bisa membantu menguatkan orang-orang yang tengah menderita dan berjuang seperti dirinya.... 



Comments

Popular posts from this blog

REVIEW NOVEL: PHILOPHOBIA By TESSA INTANYA

REVIEW NOVEL: THE SPOOK'S APPRENTICE By JOSEPH DELANEY

REVIEW NOVEL: GONE BUT NOT FORGOTTEN By Phillip Margolin